Apakah Sekolah Sekedar Untuk mencari Nilai?

Latar Belakang

Kultur pendidikan (sekolah) sekarang dan kultur pendidikan di masa lalu, mengalami pergeseran. Kalau pendidikan masa lalu bukan sekedar berorientasi pada nilai tetapi berorientasi pada proses pencapaian nilai. Bukan angkanya yang penting! tetapi proses pencapaian yang lebih penting. Pendidikan masa lalu bukan mementingkan angka di raport atau di Ijazah semata, tetapi proses memperoleh angka yang tertera di raport dan di Ijazah juga diperhatikan.

Sekolah adalah wahana untuk melatih dan membentuk KINERJA, bukan sekedar mencari nilai atau dengan kata lain; Bukan 7, 8, 9,  yang penting, tetapi proses memperoleh angka 7, 8, 9,   yang lebih penting.

Jaman sudah berubah, sistem yang dianut dimasyarakat juga berubah. sampai-sampai anak sekolah kulturnya juga berubah.  Kalau anak sekolah dulu ingin mendapatkan nilai yang bagus, ia harus berjuang habis-habisan sampai puasa senin dan kamis. Anak sekarang maunya menggunakan pendekatan seperti yang dilakukan anak buah kepada atasan, dengan menggunakan segala macam cara.

Anak-anak sekolah sekarang cenderung lebih berani di bandingkan anak-nak sekolah jaman dulu sebelum tahun 1990. Saking beraninya anak sekarang, sampai-sampai ada seorang siswa SMP  yang terang-terangan minta bocoran soal ulangan kepada gurunya, yang sebentar lagi akan laksanakan!..

Permasalahan

Kalau dilihat dari keberaniannya memang mengalami kemajuan. Tetapi kalau dikaji subtansi keberaniannya justru sebaliknya. Sangat memprihatinkan!. Lantas siapakah yang salah? Apakah pendidikan di rumah? atau pendidikan di jenjang yang sebelumnya yang mengajari demikian, sehingga kebiasaan itu di bawa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Penulis mencoba menelusuri dan mencari informasi. Setelah sekian lama mengumpulkan data, maka ada beberapa statemen yang bisa dijadikan kongklusi.

1. Banyak guru yang tidak profesional (baca;amatiran), sehingga mengajar tidak menggunakan pemikiran,tetapi menggunakan naluri yang tidak terdidik. sehingga kultur yang diajarkan juga tidak mendidik.

2. Pragmatisme pendidikan lebih dominan, ketimbang proses untuk membentuk kinerja. angka lebih penting ketimbang proses menuju perolehan angka yang exelen. sehingga proses tidaklah berjalan tetapi nilai “bimsalabim” langsung keluar dengan sangat memuaskan.

3. Pendidikan dan pelatihan karakter siswa memang utama tetapi yang terpenting adalah pendidikan dan pelatihan karakter bagi guru harus didahulukan. Jika pendidik belum/tidak punya karakter, maka jangan harap akan dapat mencetak generasi yang berkarakter.

4. Jenjang pendidikan SD adalah masa-masa penting pembentukan dan penanaman karakter siswa. Jika pada masa ini kultur yang diajarkan tidak dikontrol sedemikian rupa oleh stakeholder, maka akibatnya siswa menjadi berani berbuat salah. karena pada masa ini siswa sudah diajari dan dibiarkan untuk berbuat salah dan menyalahi sistem aturan yang ada.

Solusi

1.  Guru harus mendidik dengan menggunakan karakter guru yang sebenarnya, bukan dengan naluri yang tidak terdidik.

2. Wali murid harus pandai memilih dan memilah sekolah. Agar putra putrinya tidak di ajar atau dididik oleh guru yang tidak berkarakter.

3. lesson study harus diterapkan agar siswa yang telah mempunyai dasar karakter di rumah bisa memberikan feliue untuk dikembangkan disekolah.

4. Kepala Sekolah harus lolos uji karakter dan kepribadian, agar bisa mengontrol guru dalam mengajar. sekaligus bisa menerima masukan dari wali siswa yang sifatnya konstruktif. bukan penakut akan kehilangan jabatan

Kesimpulan

Pendidikan jaman sekarang cenderung tidak mempunyai karakter, karena guru dalam mengajar tidak mengajarkan agar siswa memegang teguh karakter.

Mengapa banyak guru yang tidak mempunyai karakter? ikarena tidak semua guru adalah orang pintar, dan tidak semua orang pintar ingin jadi  guru! Padahal guru seharusnya pintarkan?!

Tentang Makhrus Aly

Author : Makhrus Ali Alamat Rumah : Perum IMC A/8 RT.03 RW.04 Mlajah Bangkalan 69116 No. Telp : 085257224333/087849423888 Alamat Kantor : SMAN 4 Bangkalan. Jl. Pertahan No. 4 Bancaran Bangkalan Prinsip " independent dan kritis dalam berfikir dan berbuat, tetapi senantiasa bertanggung jawab"
Pos ini dipublikasikan di Materi Pembelajaran Biologi Kelas X dan tag , , . Tandai permalink.