objektifitas dalam asesment

Obyektifitas dalam suatu assesment (baca:penilain) sebenarnya suatu keharusan. Akan tetapi hal itu sulit untuk dilakukan oleh sebagain besar para pendidik (guru) karena beberapa alasan yang sulit untuk dipertanggung jawabkan, baik secara akademik maupun tuntutan profesional. akan tetapi hal itu biasa saja terjadi tanpa ada kepedulian dari stakeholder.

Akibatnya sangat fatal terutama bagi perkembangan manajerial serta  subtansi STANDAR PENILAIAN yang ditetapkan oleh pemerintah sesuai amanat dalam BSNP. penilain tidak berdasarkan data faktual yang otentik dan kontinyu. Penilaian hanya  menggunakan feeling dari guru dan permintaan dari orang yang berkepentingan.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Kalau mau ditarik benang merah yang sudah sangat kusut, maka kesemuanya itu berawal dari adanya praktek dan penyelenggaraan pendidikan yang tidak standar dalam segala hal. Dengan kata lain penyelenggaraan pendidikan yang amatiran, baik dari kepala sekolah maupun dari guru sebagai pendidik. SDM yang tidak kapabel, lingkungan yang apatis, leader yang ABS, serta kontrol yang TST (tahu sama tahu).

jika ditinjau dari beberapa aspek maka ada beberapa faktor, mengapa praktik assesment dalam suatu PMB tidak bisa objektif, antara lain:

1. Kultur  sekolah dan guru dalam melakukan assesment; jika suatu sekolah komunitas yang dominan telah terbiasa dengan pola dan kinerja yang “segalanya bisa diatur” akan sulit untuk mengembalikan ke jalur yang seharusnya yakni penilain harus objektif.

2. komersialisasi nilai dalam assesment; tidak sedikit praktik komersialisasi nilai oleh pengajar karena ada proses pendekatan yang salah yaitu “sekolah hanya berorientasi pada nilai semata”.

3. interfensi program sekolah untuk melambungkan nilai sebagai suatu sarat agar sekolah dapat proyek besar.

4. skill assesment yang dikuasai guru kurang memadai; untuk melakukan assesment yang sesuai akurat dan objektif dibutuhkan softwere dan brainwere yang kapabel.

5. kepentingan sesaat dari para pengambil keputusan.

6. kepemimpinan yang otoriter.

7. kontrol pengawas tidak menyentuh level penilain, hanya menyentuh level birokrasi.

Satu Balasan ke objektifitas dalam asesment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s